<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>instalasi visual Archives - wawasandigital.id</title>
	<atom:link href="https://wawasandigital.id/tag/instalasi-visual/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://wawasandigital.id/tag/instalasi-visual/</link>
	<description>Temukan Inspirasi, Ciptakan Keindahan — Dunia Seni dan Kerajinan yang Menghidupkan Imajinasi.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 05 Nov 2025 12:51:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>
	<item>
		<title>Komunitas ArtVerse Padang Gelar Instalasi Digital Krisis Iklim</title>
		<link>https://wawasandigital.id/komunitas-artverse-padang-instalasi-digital-krisis-iklim/</link>
					<comments>https://wawasandigital.id/komunitas-artverse-padang-instalasi-digital-krisis-iklim/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[setnis]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Nov 2025 12:51:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia Seni]]></category>
		<category><![CDATA[ArtVerse Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[instalasi visual]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas ArtVerse Padang]]></category>
		<category><![CDATA[krisis iklim]]></category>
		<category><![CDATA[pameran interaktif]]></category>
		<category><![CDATA[seni digital]]></category>
		<category><![CDATA[seni lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi hijau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://wawasandigital.id/?p=99</guid>

					<description><![CDATA[<p>wawasandigital.id  — Dalam upaya memadukan seni dan kesadaran lingkungan, Komunitas ArtVerse Padang menghadirkan pameran bertema...</p>
<p>The post <a href="https://wawasandigital.id/komunitas-artverse-padang-instalasi-digital-krisis-iklim/">Komunitas ArtVerse Padang Gelar Instalasi Digital Krisis Iklim</a> appeared first on <a href="https://wawasandigital.id">wawasandigital.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://wawasandigital.id/"><strong><em>wawasandigital.id</em></strong></a>  — Dalam upaya memadukan seni dan kesadaran lingkungan, <strong>Komunitas ArtVerse Padang</strong> menghadirkan pameran bertema <em>“Respira: Suara Alam di Era Digital”</em>, sebuah instalasi digital interaktif yang menyoroti isu krisis iklim global. Pameran ini berlangsung selama sepekan di <em>Taman Budaya Sumatera Barat</em> dan berhasil menarik perhatian seniman, akademisi, serta pelajar seni dari berbagai kota.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui pendekatan teknologi visual dan audio, ArtVerse menampilkan representasi visual perubahan suhu bumi, kenaikan permukaan air laut, serta polusi udara dalam bentuk animasi tiga dimensi yang merespons gerakan pengunjung. Ketika seseorang bergerak di area pameran, layar digital menyesuaikan warna dan intensitas visual seolah-olah menggambarkan napas alam yang semakin berat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kami ingin publik menyadari bahwa bumi sedang ‘bernapas pendek’. Melalui seni digital, pesan krisis iklim bisa tersampaikan dengan cara yang emosional sekaligus edukatif,” ujar <strong>Nadia Fitriani</strong>, kurator utama <strong>Komunitas ArtVerse Padang</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>Baca Juga: &#8220;<a href="https://wawasandigital.id/pameran-lukisan-banyuwangi-mitologi-nusantara/">Pameran Lukisan Banyuwangi Tampilkan Tema Mitologi Nusantara</a>&#8220;</em></strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity" />



<h2 class="wp-block-heading">Komunitas ArtVerse Konsep Interaktif: Antara Data, Suara, dan Visual</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Instalasi ini dirancang dengan menggabungkan <em>data real-time</em> dari sensor suhu dan tingkat polusi udara di Kota Padang. Data tersebut kemudian diolah menjadi pola visual berupa partikel cahaya dan suara ambient.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Elemen Utama Instalasi “Respira”</strong></p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Sensor Lingkungan:</strong> mengukur suhu udara dan kadar CO₂ setiap menit.</li>



<li><strong>Proyeksi Visual 3D:</strong> menampilkan pola dinamis berdasarkan perubahan data.</li>



<li><strong>Suara Alam Digital:</strong> meniru bunyi ombak, angin, dan hembusan napas manusia.</li>



<li><strong>Interaksi Pengunjung:</strong> setiap langkah atau gerakan tubuh memengaruhi pola cahaya di layar.</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph">Konsep ini dikembangkan oleh tim teknis ArtVerse bersama mahasiswa dari jurusan teknologi informasi dan seni rupa Universitas Negeri Padang. Kolaborasi lintas disiplin ini menjadi bentuk nyata penerapan pendekatan <em>art–science–technology</em> dalam ekosistem seni lokal.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity" />



<h2 class="wp-block-heading">Kolaborasi Komunitas ArtVerse dan Seniman Lokal</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Selain tim inti ArtVerse, proyek ini juga melibatkan komunitas lingkungan seperti <em>EcoWave Padang</em> dan <em>Green Youth Movement</em>. Mereka berperan dalam memberikan data lapangan tentang dampak perubahan iklim di wilayah pesisir Sumatera Barat, termasuk abrasi pantai dan perubahan cuaca ekstrem.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kolaborator Utama</strong></p>



<figure class="wp-block-table"><table class="has-fixed-layout"><thead><tr><th>Komunitas/Institusi</th><th>Kontribusi</th></tr></thead><tbody><tr><td>EcoWave Padang</td><td>Data lapangan perubahan iklim pesisir</td></tr><tr><td>Green Youth Movement</td><td>Kampanye dan edukasi lingkungan sekolah</td></tr><tr><td>UNP &amp; ISI Padang Panjang</td><td>Dukungan riset dan eksperimen visual digital</td></tr><tr><td>Dinas Kebudayaan Sumbar</td><td>Fasilitasi lokasi &amp; promosi publik</td></tr></tbody></table></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut <strong>Aldo Rizky</strong>, koordinator visual ArtVerse, kolaborasi ini menunjukkan bahwa isu lingkungan bisa menjadi medium penghubung antar bidang — dari seni, teknologi, hingga aktivisme sosial. “Kami ingin seni tidak hanya berhenti di galeri, tetapi menyentuh kesadaran publik,” ujarnya.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity" />



<h2 class="wp-block-heading">Pesan Sosial di Balik Karya Digital</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap karya dalam instalasi memiliki pesan spesifik. Salah satu karya unggulan berjudul <em>“Melting Point”</em> menggambarkan simulasi digital es kutub yang perlahan mencair setiap kali jumlah pengunjung bertambah. Karya lain, <em>“Echoes of Smoke”</em>, menampilkan siluet pepohonan yang berubah warna dari hijau menjadi abu-abu, tergantung tingkat polusi udara harian di Padang.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Tema Karya Utama</strong></p>



<ul class="wp-block-list">
<li><em>Melting Point</em>: simbol mencairnya lapisan es global.</li>



<li><em>Echoes of Smoke</em>: visualisasi polusi dan deforestasi.</li>



<li><em>Breathe</em>: instalasi interaktif yang memetakan napas pengunjung ke dalam bentuk gelombang cahaya.</li>



<li><em>Pulse of Earth</em>: layar besar yang memproyeksikan detak bumi dari data seismik aktual.</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan cara ini, <strong>Komunitas ArtVerse Padang</strong> tidak sekadar menampilkan estetika visual, tetapi juga menghadirkan dimensi reflektif terhadap relasi manusia dan alam.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity" />



<h2 class="wp-block-heading">Antusiasme Publik dan Dampak Edukatif</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak dibuka, pameran ArtVerse telah dikunjungi lebih dari 3.000 orang dalam tiga hari pertama. Banyak pengunjung muda mengaku baru memahami krisis iklim dari sisi emosional setelah berinteraksi langsung dengan instalasi digital tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Data Pengunjung (3 Hari Pertama)</strong></p>



<figure class="wp-block-table"><table class="has-fixed-layout"><thead><tr><th>Kelompok</th><th>Jumlah Pengunjung</th><th>Persentase</th></tr></thead><tbody><tr><td>Pelajar &amp; Mahasiswa</td><td>1.800</td><td>60%</td></tr><tr><td>Komunitas Seni &amp; Budaya</td><td>700</td><td>23%</td></tr><tr><td>Umum &amp; Wisatawan</td><td>500</td><td>17%</td></tr></tbody></table></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Selain pameran, ArtVerse juga menyelenggarakan lokakarya bertema <em>“Mencipta Seni dari Data”</em>, di mana peserta belajar mengubah data lingkungan menjadi karya visual menggunakan perangkat lunak open-source. Kegiatan ini diharapkan memperluas pemahaman generasi muda tentang pentingnya literasi data dan empati lingkungan.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity" />



<h2 class="wp-block-heading">Rencana Ekspansi dan Kolaborasi Internasional</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah kesuksesan di Padang, <strong>Komunitas ArtVerse</strong> berencana membawa instalasi <em>Respira</em> ke kota lain seperti Pekanbaru dan Bandung dalam format <em>traveling exhibition</em>. Mereka juga tengah menjajaki kolaborasi dengan seniman digital dari Jepang dan Belanda untuk menampilkan versi interaktif berbasis <em>augmented reality (AR)</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Tujuan kami bukan hanya memamerkan karya, tapi membangun dialog global tentang lingkungan melalui bahasa universal: seni digital,” kata Nadia Fitriani.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Rencana Tahun 2026</strong></p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Pameran keliling di tiga kota besar Indonesia.</li>



<li>Pengembangan aplikasi AR <em>Respira Home Edition</em>.</li>



<li>Kolaborasi dengan lembaga seni internasional.</li>



<li>Program edukasi digital art untuk pelajar SMA dan kampus seni.</li>
</ul>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity" />



<h2 class="wp-block-heading">Kesimpulan: Seni Digital sebagai Suara Alam</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pameran <strong>Komunitas ArtVerse Padang</strong> menegaskan bahwa seni dapat menjadi medium kuat untuk menyuarakan isu krisis iklim. Dengan menggabungkan data ilmiah, teknologi digital, dan ekspresi artistik, ArtVerse berhasil menciptakan pengalaman imersif yang menggugah kesadaran publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui proyek <em>Respira</em>, komunitas ini membuktikan bahwa kreativitas dan kepedulian lingkungan dapat berjalan berdampingan — membentuk ruang dialog baru antara manusia, teknologi, dan alam.<br>Padang, sekali lagi, membuktikan diri sebagai kota yang tak hanya kaya budaya, tetapi juga berani berinovasi dalam ranah seni digital hijau.<br><br><strong><em>Baca Juga: &#8220;<a href="https://www.tempo.co/teroka/festival-bedhayan-2025-bidik-generasi-muda-2057247">Festival Bedhayan 2025 Bidik Generasi Muda</a>&#8220;</em></strong></p>
<p>The post <a href="https://wawasandigital.id/komunitas-artverse-padang-instalasi-digital-krisis-iklim/">Komunitas ArtVerse Padang Gelar Instalasi Digital Krisis Iklim</a> appeared first on <a href="https://wawasandigital.id">wawasandigital.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://wawasandigital.id/komunitas-artverse-padang-instalasi-digital-krisis-iklim/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Seniman Bitung Ciptakan Pameran Cahaya Interaktif Lautan Tropis</title>
		<link>https://wawasandigital.id/seniman-bitung-pameran-cahaya-interaktif-lautan-tropis/</link>
					<comments>https://wawasandigital.id/seniman-bitung-pameran-cahaya-interaktif-lautan-tropis/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[setnis]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Nov 2025 03:53:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia Seni]]></category>
		<category><![CDATA[ekowisata Bitung]]></category>
		<category><![CDATA[instalasi visual]]></category>
		<category><![CDATA[konservasi laut]]></category>
		<category><![CDATA[lautan tropis]]></category>
		<category><![CDATA[pameran cahaya]]></category>
		<category><![CDATA[seni digital]]></category>
		<category><![CDATA[seni interaktif]]></category>
		<category><![CDATA[Seniman Bitung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://wawasandigital.id/?p=82</guid>

					<description><![CDATA[<p>wawasandigital.id – Seorang seniman muda asal Sulawesi Utara menghadirkan pengalaman visual yang memukau melalui pameran...</p>
<p>The post <a href="https://wawasandigital.id/seniman-bitung-pameran-cahaya-interaktif-lautan-tropis/">Seniman Bitung Ciptakan Pameran Cahaya Interaktif Lautan Tropis</a> appeared first on <a href="https://wawasandigital.id">wawasandigital.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://wawasandigital.id/"><strong><em>wawasandigital.id</em></strong></a> – Seorang seniman muda asal Sulawesi Utara menghadirkan pengalaman visual yang memukau melalui pameran bertajuk <strong>“Lautan Tropis: Interaksi dalam Cahaya”</strong>. Pameran ini menampilkan instalasi cahaya interaktif yang menggambarkan keindahan bawah laut tropis Bitung, lengkap dengan efek warna, suara ombak, dan pantulan sinar yang berubah mengikuti gerakan pengunjung.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“Saya ingin menghadirkan sensasi seperti menyelam di laut tropis, tapi lewat cahaya dan gerakan,” ujar <strong>Jefri Langitan</strong>, seniman sekaligus kurator pameran.<br><br><strong><em>Baca Juga: &#8220;<a href="https://wawasandigital.id/pelukis-kendari-lumpur-sungai/">Pelukis Kendari Gunakan Lumpur Sungai sebagai Media Alamiah</a>&#8220;</em></strong></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity" />



<h2 class="wp-block-heading">Seniman Bitung Ciptakan Konsep Pameran: Perpaduan Seni dan Teknologi</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pameran yang digelar di <strong>Balai Seni Bitung</strong> ini memanfaatkan teknologi <strong>sensor gerak dan proyeksi 3D</strong> untuk menciptakan ruang imersif yang merespons setiap langkah pengunjung. Saat seseorang bergerak, visual ikan, terumbu karang, dan cahaya laut menyesuaikan arah dan intensitasnya, seolah-olah pengunjung berinteraksi langsung dengan ekosistem laut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Proyek ini terinspirasi dari keanekaragaman biota laut Bitung yang terkenal sebagai salah satu kawasan penyelaman terbaik di Indonesia. Jefri ingin mengubah keindahan bawah laut menjadi <strong>pengalaman multisensori</strong> yang bisa dinikmati siapa pun tanpa harus benar-benar menyelam.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Seniman Bitung Ciptakan Elemen utama dalam pameran:</h3>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Proyeksi cahaya LED interaktif</strong> dengan sensor gerak.</li>



<li><strong>Efek suara bawah laut</strong> yang berubah sesuai posisi pengunjung.</li>



<li><strong>Simulasi warna laut tropis</strong> berdasarkan waktu dan intensitas cahaya.</li>



<li><strong>Struktur instalasi berbahan daur ulang</strong> menyerupai terumbu karang.</li>
</ul>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“Teknologi hanya alat, esensinya tetap tentang bagaimana manusia bisa lebih dekat dengan alam,” jelas Jefri.</p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity" />



<h2 class="wp-block-heading">Proses Kreatif Seniman Bitung yang Panjang</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk mewujudkan karya ini, Jefri bekerja sama dengan tim teknolog dari komunitas <strong>TechArt Bitung</strong>. Mereka menggunakan perangkat lunak desain visual dan sistem sensor inframerah untuk mendeteksi gerak tubuh pengunjung dalam ruang pamer. Setiap interaksi menghasilkan pola cahaya unik yang tidak akan pernah sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Persiapan pameran memakan waktu hampir enam bulan, termasuk proses riset visual bawah laut, pembuatan model karang dari bahan daur ulang, dan pengujian efek pencahayaan. Semua dilakukan secara mandiri dengan dukungan sponsor dari perusahaan kreatif lokal.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Tahapan produksi karya:</h3>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Riset visual</strong> di kawasan laut Lembeh untuk menangkap warna dan gerak alami biota.</li>



<li><strong>Desain digital</strong> proyeksi interaktif menggunakan software pemetaan cahaya.</li>



<li><strong>Pembuatan instalasi fisik</strong> dengan bahan ramah lingkungan.</li>



<li><strong>Kalibrasi sensor dan audio</strong> agar sinkron dengan interaksi pengunjung.</li>
</ol>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“Setiap cahaya dalam pameran punya ritme sendiri. Ia bergerak seperti arus laut,” kata Jefri saat menjelaskan konsepnya.</p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity" />



<h2 class="wp-block-heading">Pesan Lingkungan dalam Karya</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Meski tampil memukau secara visual, pameran ini membawa pesan ekologis yang kuat: <strong>pentingnya menjaga ekosistem laut tropis</strong>. Jefri berharap karya ini bisa mengingatkan masyarakat bahwa keindahan laut tidak akan bertahan tanpa kesadaran lingkungan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Visual yang menampilkan koral berwarna-warni perlahan berubah menjadi suram saat sensor mendeteksi terlalu banyak pergerakan — simbol dari kerusakan laut akibat aktivitas manusia yang berlebihan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Nilai edukatif yang disampaikan:</h3>



<ul class="wp-block-list">
<li>Mengajak pengunjung memahami keterkaitan antara manusia dan alam.</li>



<li>Menyampaikan dampak polusi dan eksploitasi laut secara simbolik.</li>



<li>Mendorong kesadaran terhadap konservasi biota laut tropis.</li>
</ul>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“Kita sering menikmati laut hanya dari keindahannya, tapi jarang berpikir bagaimana menjaganya,” tutur Jefri.</p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity" />



<h2 class="wp-block-heading">Antusiasme Pengunjung dan Komunitas Seni</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak dibuka, pameran ini menarik perhatian ratusan pengunjung setiap harinya, mulai dari pelajar, seniman, hingga wisatawan lokal. Banyak pengunjung mengaku terkesan dengan cara pameran ini memadukan <strong>seni, sains, dan pesan ekologi</strong> dalam satu ruang yang interaktif.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“Rasanya seperti berjalan di bawah laut, tapi penuh warna dan cahaya. Ini pengalaman yang menenangkan sekaligus menyadarkan,” kata <strong>Livia Mokoginta</strong>, salah satu pengunjung asal Manado.</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa komunitas seni di Sulawesi Utara bahkan menyatakan ketertarikannya untuk menghadirkan proyek serupa di daerah lain. Dukungan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bitung juga memperkuat rencana tur keliling pameran ke beberapa kota besar di Indonesia Timur.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Bentuk dukungan yang diberikan:</h3>



<ul class="wp-block-list">
<li>Fasilitasi ruang dan logistik pameran.</li>



<li>Kolaborasi dengan sekolah seni dan universitas.</li>



<li>Promosi pameran melalui kanal wisata daerah.</li>



<li>Program diskusi seni dan lingkungan bersama pelajar.</li>
</ul>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“Kami ingin karya ini tidak hanya dilihat, tapi juga menginspirasi gerakan nyata menjaga laut,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Bitung.</p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity" />



<h2 class="wp-block-heading">Masa Depan Seni Cahaya Interaktif di Indonesia</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui pameran “Lautan Tropis”, Jefri membuktikan bahwa <strong>seni digital interaktif</strong> memiliki potensi besar di Indonesia, khususnya dalam menyampaikan pesan lingkungan dan budaya lokal. Ia berharap karya seperti ini bisa menjadi jembatan antara generasi muda dan isu konservasi laut.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“Anak muda sekarang hidup di era visual. Jika pesan lingkungan dikemas dalam bentuk yang mereka nikmati, maka kesadarannya akan tumbuh lebih cepat,” ungkap Jefri.</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Ke depan, ia berencana mengembangkan versi pameran luar ruang yang bisa ditampilkan di area publik Bitung pada malam hari, lengkap dengan proyeksi laser di atas permukaan air.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan kreativitas dan semangat kolaborasi, karya Jefri menjadi bukti bahwa <strong>seniman lokal mampu membawa isu global melalui inovasi seni cahaya</strong>, menyinari kesadaran akan pentingnya menjaga keindahan lautan tropis Indonesia.<br><br><strong><em>Baca Juga: &#8220;<a href="https://www.metrotvnews.com/read/KZmCVAGV-mahasiswa-isi-yogyakarta-lukis-drone-padukan-estetika-dan-teknologi">Mahasiswa ISI Yogyakarta Lukis Drone, Padukan Estetika dan Teknologi</a>&#8220;</em></strong></p>
<p>The post <a href="https://wawasandigital.id/seniman-bitung-pameran-cahaya-interaktif-lautan-tropis/">Seniman Bitung Ciptakan Pameran Cahaya Interaktif Lautan Tropis</a> appeared first on <a href="https://wawasandigital.id">wawasandigital.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://wawasandigital.id/seniman-bitung-pameran-cahaya-interaktif-lautan-tropis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
