wawasandigital.id – Suasana Galeri Seni Blambangan minggu ini dipenuhi warna dan simbol mistis. Pameran bertajuk “Spirit of Nusantara: Mitologi dalam Kanvas” menampilkan lebih dari 60 karya lukisan dari 20 seniman lokal dan nasional, yang mengangkat kisah-kisah mitologi dari berbagai daerah di Indonesia. Dari legenda Nyi Roro Kidul hingga mitos asal mula Gunung Ijen, seluruh karya menghadirkan interpretasi visual yang sarat makna budaya.
“Kami ingin mengingatkan generasi muda bahwa mitologi Nusantara bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan warisan nilai dan filosofi,” ujar Kurator Pameran, Dimas Mahendra.
Baca Juga: “Desainer Pontianak Padukan Motif Dayak dengan Pola Minimalis“
Pameran Lukisan Banyuwangi Menghidupkan Kembali Cerita Leluhur
Pameran ini menjadi wadah bagi seniman untuk menggali kembali kisah mitologi yang mulai terlupakan, seperti tokoh Dewi Sri dari Jawa, Batara Kala, atau legenda Jaka Tarub. Setiap karya menggambarkan hubungan manusia dengan alam, spiritualitas, dan kekuatan tak kasatmata yang dipercaya melingkupi kehidupan masyarakat tradisional.
“Saya menampilkan tokoh Barong dan Rangda dalam gaya modern ekspresif. Bukan hanya tentang pertarungan baik dan jahat, tapi keseimbangan hidup manusia,” jelas Rara Wulandari, pelukis asal Banyuwangi.
Pameran ini tak sekadar menampilkan karya visual, tapi juga menghadirkan narasi di setiap kanvas. Setiap lukisan dilengkapi dengan kutipan legenda, menjadikan pengunjung seperti membaca kisah kuno yang dihidupkan kembali lewat warna dan tekstur.
Tema yang paling menarik perhatian pengunjung:
- Legendaris Laut Selatan – menggambarkan sosok Nyi Roro Kidul dalam nuansa laut biru kehijauan.
- Dewi Sri dan Padi Kehidupan – melambangkan kesuburan dan rasa syukur masyarakat agraris.
- Legenda Kawah Ijen – menyoroti pekerja belerang sebagai simbol keteguhan manusia menghadapi alam.
- Sang Kala dan Waktu – representasi kontemporer mitos Batara Kala sebagai penjaga keseimbangan dunia.
“Kisah-kisah ini merekatkan kita dengan identitas budaya dan alam sekitar,” tambah Dimas.
Pameran Lukisan Banyuwangi Tampilkan Kolaborasi Seni dan Budaya
Pameran ini juga melibatkan komunitas budaya dan pelajar seni dari Banyuwangi Art Institute (BAS). Mereka berperan dalam instalasi multimedia yang memadukan seni lukis, musik tradisional, dan efek cahaya digital, menciptakan suasana imersif bagi pengunjung.
“Kami ingin membawa pengalaman yang tidak hanya dilihat, tapi juga dirasakan,” ujar Fajar Nugroho, direktur BAS.
Beberapa ruangan menampilkan proyeksi interaktif legenda lokal, seperti cerita asal-usul Taman Gandrung Terakota atau Tari Seblang. Pengunjung dapat menelusuri kisah dengan menyentuh layar digital yang menampilkan gambar karakter mitologis.
Unsur kolaboratif dalam pameran:
- Instalasi cahaya digital bertema “Roh Gunung”.
- Musik gamelan dan ambient sound yang menyatu dengan lukisan.
- Workshop menggambar karakter mitologi untuk pelajar.
- Panggung mini pembacaan legenda oleh seniman lokal.
“Kolaborasi ini membuktikan bahwa mitologi bisa diangkat secara modern tanpa kehilangan nilai spiritualnya,” kata Fajar.
Dukungan Pemerintah Daerah dan Pariwisata
Pameran ini mendapat dukungan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyuwangi sebagai bagian dari agenda Banyuwangi Art Week 2025. Pemerintah berharap kegiatan ini tidak hanya memperkuat ekosistem seni, tetapi juga menarik wisatawan yang tertarik dengan budaya dan spiritualitas Nusantara.
“Banyuwangi memiliki warisan cerita rakyat yang luar biasa. Pameran ini menjadi jembatan antara tradisi dan inovasi,” ujar Plt. Kepala Disparbud Banyuwangi, Lestari Indah.
Selain pameran lukisan, pengunjung juga bisa menikmati tur budaya ke beberapa situs legenda seperti Kawah Ijen, Desa Kemiren, dan Pantai Pulau Merah, tempat di mana beberapa mitos yang digambarkan dalam lukisan berasal.
Dampak positif dari kegiatan ini:
- Meningkatkan kunjungan wisata budaya ke Banyuwangi.
- Memberi ruang bagi seniman lokal untuk dikenal luas.
- Mendorong generasi muda mengenal kisah leluhur Nusantara.
- Mengangkat potensi daerah sebagai pusat seni mitologi Indonesia.
“Kami akan menjadikan tema mitologi sebagai identitas tahunan Banyuwangi Art Week,” tambah Lestari.
Antusiasme Pengunjung Pameran Lukisan Banyuwangi dan Kolektor
Sejak dibuka, pameran ini ramai dikunjungi mahasiswa seni, komunitas budaya, dan kolektor nasional. Beberapa karya bahkan langsung terjual pada hari pertama pembukaan. Para pengunjung menyebut pameran ini menghadirkan “jiwa Nusantara” yang jarang ditemukan dalam pameran modern.
“Setiap lukisan seperti mengajak berdialog dengan masa lalu,” ujar Dewi Kusuma (32), pengunjung asal Yogyakarta.
Pihak penyelenggara juga menyiapkan toko mini art merchandise, menjual reproduksi karya seniman dalam bentuk print art, tote bag, dan kartu pos ilustratif agar pengunjung bisa membawa pulang sebagian kisah dari pameran.
Kolektor yang paling menonjol:
- Koleksi pribadi bertema “Mitologi Laut Selatan” dibeli oleh galeri seni di Bali.
- Lukisan “Sang Kala” mendapat tawaran dari kolektor Singapura.
- Beberapa karya mural digital diundang tampil di pameran virtual internasional.
“Kami senang karena mitologi Indonesia mulai menarik perhatian internasional,” ujar Dimas.
Mitologi sebagai Inspirasi Seni Masa Kini
Lebih dari sekadar pameran, Spirit of Nusantara menjadi pengingat bahwa cerita leluhur tetap relevan di tengah modernitas. Para seniman berharap mitologi dapat terus dihidupkan melalui karya seni, film, hingga media digital agar tak lekang oleh waktu.
“Mitologi adalah cara bangsa kita memahami kehidupan. Jika dijaga, ia akan selalu menjadi sumber inspirasi,” tutup Rara Wulandari.
Dengan perpaduan teknologi, seni, dan budaya lokal, Pameran Lukisan Banyuwangi sukses membawa pengunjung dalam perjalanan lintas waktu — dari masa mitos menuju masa depan seni Nusantara yang gemilang.
Baca Juga: “Upaya Festival Bedhayan Menuju Pengakuan Warisan Budaya Takbenda UNESCO“











