wawasandigital.id – Seorang seniman muda asal Sulawesi Utara menghadirkan pengalaman visual yang memukau melalui pameran bertajuk “Lautan Tropis: Interaksi dalam Cahaya”. Pameran ini menampilkan instalasi cahaya interaktif yang menggambarkan keindahan bawah laut tropis Bitung, lengkap dengan efek warna, suara ombak, dan pantulan sinar yang berubah mengikuti gerakan pengunjung.
“Saya ingin menghadirkan sensasi seperti menyelam di laut tropis, tapi lewat cahaya dan gerakan,” ujar Jefri Langitan, seniman sekaligus kurator pameran.
Baca Juga: “Pelukis Kendari Gunakan Lumpur Sungai sebagai Media Alamiah“
Seniman Bitung Ciptakan Konsep Pameran: Perpaduan Seni dan Teknologi
Pameran yang digelar di Balai Seni Bitung ini memanfaatkan teknologi sensor gerak dan proyeksi 3D untuk menciptakan ruang imersif yang merespons setiap langkah pengunjung. Saat seseorang bergerak, visual ikan, terumbu karang, dan cahaya laut menyesuaikan arah dan intensitasnya, seolah-olah pengunjung berinteraksi langsung dengan ekosistem laut.
Proyek ini terinspirasi dari keanekaragaman biota laut Bitung yang terkenal sebagai salah satu kawasan penyelaman terbaik di Indonesia. Jefri ingin mengubah keindahan bawah laut menjadi pengalaman multisensori yang bisa dinikmati siapa pun tanpa harus benar-benar menyelam.
Seniman Bitung Ciptakan Elemen utama dalam pameran:
- Proyeksi cahaya LED interaktif dengan sensor gerak.
- Efek suara bawah laut yang berubah sesuai posisi pengunjung.
- Simulasi warna laut tropis berdasarkan waktu dan intensitas cahaya.
- Struktur instalasi berbahan daur ulang menyerupai terumbu karang.
“Teknologi hanya alat, esensinya tetap tentang bagaimana manusia bisa lebih dekat dengan alam,” jelas Jefri.
Proses Kreatif Seniman Bitung yang Panjang
Untuk mewujudkan karya ini, Jefri bekerja sama dengan tim teknolog dari komunitas TechArt Bitung. Mereka menggunakan perangkat lunak desain visual dan sistem sensor inframerah untuk mendeteksi gerak tubuh pengunjung dalam ruang pamer. Setiap interaksi menghasilkan pola cahaya unik yang tidak akan pernah sama.
Persiapan pameran memakan waktu hampir enam bulan, termasuk proses riset visual bawah laut, pembuatan model karang dari bahan daur ulang, dan pengujian efek pencahayaan. Semua dilakukan secara mandiri dengan dukungan sponsor dari perusahaan kreatif lokal.
Tahapan produksi karya:
- Riset visual di kawasan laut Lembeh untuk menangkap warna dan gerak alami biota.
- Desain digital proyeksi interaktif menggunakan software pemetaan cahaya.
- Pembuatan instalasi fisik dengan bahan ramah lingkungan.
- Kalibrasi sensor dan audio agar sinkron dengan interaksi pengunjung.
“Setiap cahaya dalam pameran punya ritme sendiri. Ia bergerak seperti arus laut,” kata Jefri saat menjelaskan konsepnya.
Pesan Lingkungan dalam Karya
Meski tampil memukau secara visual, pameran ini membawa pesan ekologis yang kuat: pentingnya menjaga ekosistem laut tropis. Jefri berharap karya ini bisa mengingatkan masyarakat bahwa keindahan laut tidak akan bertahan tanpa kesadaran lingkungan.
Visual yang menampilkan koral berwarna-warni perlahan berubah menjadi suram saat sensor mendeteksi terlalu banyak pergerakan — simbol dari kerusakan laut akibat aktivitas manusia yang berlebihan.
Nilai edukatif yang disampaikan:
- Mengajak pengunjung memahami keterkaitan antara manusia dan alam.
- Menyampaikan dampak polusi dan eksploitasi laut secara simbolik.
- Mendorong kesadaran terhadap konservasi biota laut tropis.
“Kita sering menikmati laut hanya dari keindahannya, tapi jarang berpikir bagaimana menjaganya,” tutur Jefri.
Antusiasme Pengunjung dan Komunitas Seni
Sejak dibuka, pameran ini menarik perhatian ratusan pengunjung setiap harinya, mulai dari pelajar, seniman, hingga wisatawan lokal. Banyak pengunjung mengaku terkesan dengan cara pameran ini memadukan seni, sains, dan pesan ekologi dalam satu ruang yang interaktif.
“Rasanya seperti berjalan di bawah laut, tapi penuh warna dan cahaya. Ini pengalaman yang menenangkan sekaligus menyadarkan,” kata Livia Mokoginta, salah satu pengunjung asal Manado.
Beberapa komunitas seni di Sulawesi Utara bahkan menyatakan ketertarikannya untuk menghadirkan proyek serupa di daerah lain. Dukungan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bitung juga memperkuat rencana tur keliling pameran ke beberapa kota besar di Indonesia Timur.
Bentuk dukungan yang diberikan:
- Fasilitasi ruang dan logistik pameran.
- Kolaborasi dengan sekolah seni dan universitas.
- Promosi pameran melalui kanal wisata daerah.
- Program diskusi seni dan lingkungan bersama pelajar.
“Kami ingin karya ini tidak hanya dilihat, tapi juga menginspirasi gerakan nyata menjaga laut,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Bitung.
Masa Depan Seni Cahaya Interaktif di Indonesia
Melalui pameran “Lautan Tropis”, Jefri membuktikan bahwa seni digital interaktif memiliki potensi besar di Indonesia, khususnya dalam menyampaikan pesan lingkungan dan budaya lokal. Ia berharap karya seperti ini bisa menjadi jembatan antara generasi muda dan isu konservasi laut.
“Anak muda sekarang hidup di era visual. Jika pesan lingkungan dikemas dalam bentuk yang mereka nikmati, maka kesadarannya akan tumbuh lebih cepat,” ungkap Jefri.
Ke depan, ia berencana mengembangkan versi pameran luar ruang yang bisa ditampilkan di area publik Bitung pada malam hari, lengkap dengan proyeksi laser di atas permukaan air.
Dengan kreativitas dan semangat kolaborasi, karya Jefri menjadi bukti bahwa seniman lokal mampu membawa isu global melalui inovasi seni cahaya, menyinari kesadaran akan pentingnya menjaga keindahan lautan tropis Indonesia.
Baca Juga: “Mahasiswa ISI Yogyakarta Lukis Drone, Padukan Estetika dan Teknologi“











