wawasandigital.id – Dunia fashion Indonesia kembali kedatangan warna baru dari Kota Pontianak.
Seorang desainer muda bernama Laras Ayuningtyas memperkenalkan koleksi busana bertema “Urban Tribe”, yang memadukan motif tradisional Dayak dengan gaya minimalis modern.
“Saya ingin menunjukkan bahwa motif Dayak tidak hanya indah, tapi juga bisa tampil elegan di era modern,” ujar Laras saat ditemui dalam pameran Pontianak Fashion Expo di Convention Center Kalimantan Barat.
Koleksi ini menjadi sorotan karena berhasil menghadirkan keseimbangan antara keaslian budaya lokal dan estetika kontemporer, dua hal yang sering kali sulit disatukan dalam dunia desain.
Baca Juga: “Sekolah Seni Samarinda Terapkan Kurikulum Digital Art Interaktif“
Desainer Pontianak Padukan Inspirasi dari Anyaman dan Ukiran Dayak
Dalam proses kreatifnya, Laras menggali inspirasi dari anyaman rotan dan ukiran rumah adat Dayak Kanayatn.
Motif khas seperti aso (naga bersayap) dan enggang (burung khas Kalimantan) diterjemahkan menjadi garis geometris halus pada kain linen dan katun organik.
“Saya ingin menghapus kesan berat dari busana etnik. Motif Dayak tetap menjadi jiwa desain, tetapi tampil lebih ringan dan bisa dipakai sehari-hari,” jelasnya.
Warna-warna yang dipilih pun lembut — seperti abu tanah, krem bambu, dan hitam arang — menciptakan nuansa natural yang tetap kuat secara visual.
Beberapa busana bahkan menampilkan kombinasi bordir tangan dan teknik sablon digital untuk menjaga detail khas namun tetap efisien dalam produksi.
Ciri Khas Koleksi “Urban Tribe”
- 🌿 Dominasi warna alam: krem, tanah liat, dan hitam.
- 🪶 Sentuhan motif Dayak yang disederhanakan secara geometris.
- ✂️ Siluet longgar bergaya minimalis urban.
- 🧵 Penggunaan kain ramah lingkungan lokal Kalimantan.
Desainer Pontianak Padukan Filosofi Desain — Etnik yang Adaptif
Laras percaya bahwa mode tradisional harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan makna.
Menurutnya, desain minimalis bukan sekadar estetika, tetapi juga refleksi nilai kesederhanaan, keseimbangan, dan keberlanjutan.
“Dayak mengajarkan harmoni antara manusia dan alam. Filosofi itu saya bawa ke dalam desain — bentuk yang tenang, tapi penuh makna,” ujarnya.
Busana rancangannya cocok untuk berbagai acara, mulai dari gaya kasual kantor hingga semi-formal.
Potongan simpel membuatnya mudah dipadu dengan aksesori modern tanpa kehilangan karakter lokal.
Beberapa karya bahkan menggunakan kain hasil tenun komunitas perempuan di Kapuas Hulu, menegaskan komitmen Laras dalam memberdayakan pengrajin lokal.
Kolaborasi Desainer Pontianak dengan Komunitas Lokal
Kesuksesan koleksi ini tak lepas dari kerja sama dengan komunitas seni dan pengrajin Dayak.
Laras menggandeng kelompok Sanggar Lembayung Craft yang berfokus pada pelestarian motif dan teknik anyaman tradisional.
“Kami tak ingin sekadar meminjam motif, tapi juga menghidupkan kembali prosesnya,” kata Dewi Anjani, ketua sanggar tersebut.
Setiap produk dibuat dengan memperhatikan etika budaya — termasuk izin dari tokoh adat dan konsultasi mengenai makna simbol dalam motif.
Pendekatan ini mendapat apresiasi dari kalangan akademisi dan pecinta budaya, karena menampilkan mode sebagai sarana pelestarian identitas lokal.
Diminati Pasar Nasional dan Internasional
Sejak diperkenalkan, koleksi “Urban Tribe” mendapat sambutan positif dari pasar nasional dan luar negeri.
Beberapa butik di Jakarta dan Singapura sudah mulai memesan koleksi terbatasnya.
Desain yang ringan dan serbaguna dianggap cocok untuk generasi muda yang ingin tampil modern tanpa meninggalkan nilai tradisi.
“Banyak pembeli tertarik karena busana ini punya cerita. Mereka tak hanya membeli pakaian, tapi juga budaya,” tutur Laras.
Untuk memperluas jangkauan, Laras menggandeng platform e-commerce lokal dan pameran Indonesia Fashion Craft.
Ia juga mulai mengembangkan lini aksesoris etnik modern, seperti tas dan kalung berbahan rotan serta resin daur ulang.
Tantangan dan Harapan
Meski sukses, Laras mengakui perjalanan menggabungkan tradisi dan modernitas tidak mudah.
Beberapa pihak menilai motif Dayak sebaiknya tidak disederhanakan. Namun, ia menegaskan bahwa tujuannya bukan menghapus nilai budaya, melainkan membawanya lebih dekat dengan generasi muda.
“Kalau hanya disimpan di museum, tradisi bisa terlupakan. Saya ingin budaya Dayak hidup di jalanan kota,” ungkapnya.
Laras berharap karyanya dapat menginspirasi desainer lain untuk mengeksplorasi kekayaan lokal tanpa rasa takut dianggap kuno.
Menurutnya, masa depan fashion Indonesia terletak pada keberanian menggabungkan nilai tradisi dengan desain berkelanjutan.
Refleksi: Saat Tradisi dan Inovasi Bertemu
Kehadiran Laras dan koleksinya menjadi simbol perubahan arah industri mode Tanah Air — dari konsumsi massal menuju apresiasi nilai budaya dan keberlanjutan.
Motif Dayak kini tidak lagi hanya milik perayaan adat, tetapi juga bagian dari gaya hidup urban yang penuh makna.
“Desain lokal adalah identitas. Kalau kita tidak menghidupkannya, siapa lagi?” tutup Laras.
Dengan langkah berani, Pontianak menegaskan diri bukan hanya kota budaya, tetapi juga pusat kreativitas fashion etnik modern, tempat di mana masa lalu dan masa depan berpadu indah dalam setiap helai kain.
Baca Juga:”Perdana, Seniman Patung Kontemporer Tiongkok Pamerkan Karyanya di Linda Galeri“











