wawasandigital.id — Kota Kendari kini menorehkan prestasi di dunia desain interior.
Sebuah studio kreatif lokal, Luma Atelier Kendari merupakan desainer Kendari yang berhasil memperkenalkan sistem pencahayaan Dynamic-Light adaptif cuaca — teknologi yang mampu menyesuaikan intensitas dan warna cahaya sesuai perubahan kondisi alam.
“Kami ingin menghadirkan kenyamanan yang bukan hanya estetis, tapi juga selaras dengan ritme alam,” ujar Naufal Hasan, pendiri sekaligus desainer utama Luma Atelier.
Sistem ini terinspirasi dari perubahan cahaya alami di Sulawesi Tenggara yang terkenal dinamis: dari terik tropis di pagi hari hingga lembayung sore di tepi pantai.
Baca Juga: “Pameran Lukisan Depok Angkat Tema Tradisi dan Teknologi Hybrid“
Desainer Kendari Hadirkan Konsep Dynamic-Light dan Cara Kerjanya
Dynamic-Light adalah sistem pencahayaan yang menggabungkan sensor cuaca, suhu, dan kelembapan untuk menyesuaikan cahaya ruangan secara otomatis.
Lampu LED diatur oleh chip mikro AI yang membaca data dari luar ruangan.
Ketika cuaca berubah mendung, cahaya di dalam ruangan akan menghangat dan lebih lembut; sedangkan pada siang terik, sistem menurunkan intensitas untuk menghemat energi.
Fitur utama sistem Dynamic-Light Kendari:
- ☀️ Auto-Sync Cuaca: pencahayaan menyesuaikan intensitas sinar matahari.
- 🌧️ Mode Hujan dan Mendung: cahaya lebih lembut untuk kenyamanan visual.
- 🌙 Night Balance: pencahayaan hangat menstimulasi relaksasi tubuh.
- ⚡ Smart Efficiency: sistem menghemat energi hingga 45% dari lampu konvensional.
“Kelebihan sistem kami adalah kemampuan membaca mikroperubahan cahaya alami, bukan sekadar berdasarkan jam,” jelas Naufal.
Sistem ini kini diuji coba di beberapa rumah modern dan ruang kerja kreatif di kawasan Mandonga dan Lepo-Lepo, Kendari.
Desainer Kendari Hadirkan Kolaborasi Desain, Teknologi, dan Alam
Luma Atelier menggandeng tim insinyur dari Politeknik Negeri Kendari untuk menciptakan sensor cuaca berukuran mini dengan tingkat akurasi tinggi.
Kolaborasi ini membuktikan bahwa desain interior modern bisa tumbuh dari inovasi lokal tanpa bergantung pada impor.
Tahapan pengembangan proyek:
- Penelitian intensitas cahaya alami di 10 titik kota Kendari selama 3 bulan.
- Pengembangan sensor suhu dan kelembapan mikro.
- Pembuatan modul LED dengan sistem AI adaptif.
- Uji coba ergonomi cahaya pada pengguna di ruang kerja dan rumah tinggal.
“Kami ingin membuktikan bahwa desain bisa menjadi jembatan antara teknologi dan kesejahteraan,” ujar Rizka Nuraini, peneliti dari Politeknik Negeri Kendari.
Kolaborasi ini menghasilkan teknologi pencahayaan yang tak hanya indah, tetapi juga memiliki nilai ekologis tinggi — karena seluruh komponennya dapat didaur ulang.
Desainer Kendari Hadirkan Efek Cahaya terhadap Suasana dan Produktivitas
Penelitian menunjukkan bahwa pencahayaan yang selaras dengan cuaca alami dapat memengaruhi suasana hati dan tingkat produktivitas.
Ketika cahaya terlalu dingin di hari hujan, tubuh merespons dengan rasa kantuk; sebaliknya, cahaya hangat di sore hari membantu menurunkan stres.
Menurut hasil riset tim Luma Atelier:
- Pengguna ruang kerja dengan Dynamic-Light mengalami peningkatan konsentrasi hingga 22%.
- 7 dari 10 responden merasa kualitas tidur lebih baik setelah menggunakan pencahayaan otomatis malam hari.
- Rata-rata konsumsi listrik turun hingga 40% dalam tiga bulan penggunaan.
“Cahaya bukan sekadar penerangan, tetapi ritme kehidupan.
Dengan pencahayaan yang adaptif, tubuh kita bisa selaras dengan alam,” tambah Rizka.
Inspirasi dari Alam Tropis
Desain interior Dynamic-Light mengambil inspirasi dari warna alam Sulawesi Tenggara — gradasi oranye lembut pantai Toronipa dan biru laut Kendari.
Setiap panel LED diprogram untuk meniru perubahan warna alami ini.
Bahkan, saat hujan turun, sistem memunculkan nuansa temaram kebiruan yang menenangkan.
“Kami ingin menghadirkan pengalaman ruang yang hidup, seolah ruangan ikut bernapas bersama alam,” kata Naufal.
Pendekatan desain ini juga menggunakan material ramah lingkungan seperti bambu laminasi, kayu kelapa, dan cat berbasis air agar sejalan dengan filosofi hijau yang diusung studio.
Respons Masyarakat dan Rencana Pengembangan
Proyek ini mendapat sambutan positif dari masyarakat Kendari, terutama kalangan arsitek muda dan pengembang properti.
Banyak yang menilai Dynamic-Light dapat menjadi standar baru rumah tropis modern yang efisien dan menenangkan.
Beberapa kafe dan co-working space di Kendari mulai memesan sistem ini untuk menciptakan suasana ruang yang berbeda sepanjang hari.
“Di pagi hari, cahaya kami lembut dan menstimulasi fokus, sementara malam hari terasa lebih hangat dan intim,” ujar Yunita, pemilik kafe lokal Aurora Space.
Luma Atelier kini menargetkan ekspansi ke Makassar dan Bali untuk memperkenalkan Dynamic-Light sebagai bagian dari eco-living lifestyle.
Menuju Ruang yang Hidup dan Berkesadaran
Teknologi Dynamic-Light bukan hanya tentang kemewahan visual, melainkan tentang kesadaran akan ritme hidup.
Di tengah tren rumah pintar dan efisiensi energi, desain seperti ini menghadirkan keseimbangan baru antara manusia dan lingkungan.
“Kami percaya masa depan desain bukan sekadar canggih, tapi juga manusiawi,” tutup Naufal.
Dengan inovasi ini, Kendari tidak hanya dikenal sebagai kota pesisir yang indah, tetapi juga pusat kreativitas arsitektur tropis modern di Indonesia timur.
Dynamic-Light membuktikan bahwa cahaya — ketika dikelola dengan cerdas — bisa menjadi bentuk keindahan yang berkelanjutan.
Baca Juga: “Lamandau Festival 2025: Perpaduan Budaya Dayak Tomun dan Ekonomi Kreatif di Kalteng“











