wawasandigital.id — Suasana tepi Sungai Musi akhir pekan ini berbeda dari biasanya. Ratusan peserta, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga seniman lokal, mengikuti workshop lukis publik yang digelar oleh Akademi Seni Palembang (ASP). Acara bertema “Warna Sungai, Warna Kehidupan” ini bertujuan mengajak masyarakat memaknai keindahan alam dan lingkungan perkotaan melalui seni rupa.
“Kami ingin seni tidak hanya dinikmati di ruang galeri, tapi juga di ruang terbuka agar dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat,” ujar Rizal Pratama, Ketua Panitia Workshop dan dosen seni rupa ASP.
Baca Juga: “Seniman Jayapura Gelar Pameran Suara Hutan “Echo Tropis”“
Akademi Seni Palembang Membangun Interaksi Antara Seni dan Alam
Workshop ini menjadi bagian dari program tahunan Akademi Seni Palembang untuk memperkenalkan konsep seni partisipatif publik. Lokasi di tepi Sungai Musi dipilih bukan tanpa alasan. Sungai yang menjadi ikon kota ini dianggap memiliki nilai historis dan ekologis yang kuat bagi warga Palembang.
“Sungai Musi adalah denyut kehidupan kota ini. Kami ingin mengembalikan hubungan masyarakat dengan sungai melalui cara yang kreatif,” tambah Rizal.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta diajak melukis langsung di area pelataran Benteng Kuto Besak. Mereka menggunakan media kanvas besar, kayu, dan bahkan papan daur ulang sebagai alas lukis. Setiap peserta bebas mengekspresikan pandangannya terhadap alam, air, dan kehidupan masyarakat di sepanjang sungai.
Akademi Seni Palembang Dengan Materi dan Bimbingan dari Seniman Profesional
Akademi Seni Palembang menghadirkan sejumlah seniman profesional sebagai mentor. Salah satunya adalah Dina Aprilianti, pelukis kontemporer asal Sumatera Selatan yang dikenal lewat karya bertema lingkungan. Dalam sesi pembukaan, Dina memberikan materi tentang teknik melukis cepat di ruang terbuka (plein air painting) dan cara menangkap dinamika cahaya alami.
Beberapa topik yang dibahas dalam sesi pelatihan meliputi:
- Pemilihan komposisi alami: menata objek sungai, perahu, dan manusia sebagai satu kesatuan visual.
- Teknik warna ekspresif: menggunakan gradasi air, refleksi, dan bayangan untuk menggambarkan suasana emosional.
- Eksperimen bahan: peserta diperbolehkan menggunakan bahan alami seperti lumpur sungai, arang, atau daun kering sebagai tambahan tekstur.
“Melukis di luar ruangan itu tidak hanya soal keindahan, tapi juga kepekaan terhadap lingkungan. Udara, cahaya, dan suara sungai ikut menentukan hasil akhir,” jelas Dina.
Menghubungkan Seni dengan Kesadaran Ekologis
Selain pelatihan seni, workshop ini juga membawa pesan kesadaran lingkungan. Sungai Musi, yang menjadi sumber kehidupan warga, kini menghadapi tantangan polusi dan penurunan kualitas air. Melalui kegiatan melukis, para peserta diajak memahami pentingnya menjaga ekosistem sungai dan mengapresiasi keindahan alam yang kian terancam.
“Kami ingin generasi muda sadar bahwa menjaga sungai sama pentingnya dengan menjaga budaya. Sungai adalah inspirasi dan sumber kehidupan,” kata Farah Indrasari, Direktur Akademi Seni Palembang.
Dalam karya para peserta, banyak yang menampilkan simbol air bersih, kehidupan masyarakat pesisir, dan harapan akan sungai yang lebih lestari. Beberapa lukisan bahkan menggunakan serpihan plastik sungai yang diolah menjadi kolase, menunjukkan hubungan antara kreativitas dan pesan lingkungan.
Kolaborasi dengan Komunitas dan Pemerintah
Workshop ini juga menjadi ajang kolaborasi antara dunia akademik, komunitas seniman, dan pemerintah daerah. Dinas Pariwisata Kota Palembang turut mendukung acara tersebut dengan menyediakan fasilitas lokasi dan promosi kegiatan.
Selain itu, beberapa komunitas kreatif seperti Sahabat Sungai Musi dan EcoArt Palembang ikut serta membantu peserta mengenali isu lingkungan sungai. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem seni sekaligus mendorong kesadaran kolektif masyarakat.
“Kegiatan seperti ini membantu kami mengajak masyarakat peduli terhadap sungai tanpa harus lewat kampanye formal. Seni menjadi jembatan yang lembut tapi efektif,” ujar Andri Wibowo, perwakilan Sahabat Sungai Musi.
Antusiasme Peserta dan Respons Publik
Ratusan pengunjung yang melintas di kawasan Benteng Kuto Besak tampak berhenti untuk menonton proses melukis. Beberapa di antaranya bahkan ikut memberi warna di kanvas bersama peserta. Interaksi spontan ini menciptakan suasana hangat dan penuh semangat kebersamaan.
“Biasanya kami hanya lihat lukisan di pameran, sekarang bisa ikut melukis bareng. Rasanya menyenangkan dan membuat kami lebih menghargai karya seni,” ujar Nadya (17), salah satu pelajar peserta workshop.
Karya-karya hasil workshop ini nantinya akan dipamerkan di galeri Akademi Seni Palembang dan dilelang untuk mendukung kegiatan sosial, seperti penanaman pohon di bantaran Sungai Musi.
Harapan dan Langkah Selanjutnya
Akademi Seni Palembang berencana menjadikan kegiatan lukis publik ini sebagai agenda tahunan dengan tema yang selalu berubah. Tahun depan, mereka berencana menggabungkan seni rupa dengan musik tradisional dan pertunjukan teater di lokasi yang sama.
“Kami ingin menjadikan Palembang sebagai kota seni terbuka di Sumatera. Sungai adalah panggung alami bagi seniman dan masyarakat,” tutup Farah.
Dengan kegiatan ini, ASP tidak hanya memperkenalkan seni kepada publik, tetapi juga menanamkan nilai kebersamaan dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Lukisan-lukisan yang lahir di tepi Sungai Musi menjadi saksi bahwa kreativitas dapat tumbuh di ruang publik, membawa pesan kebaikan, dan menghubungkan manusia dengan alamnya kembali.
Baca Juga: “Ekspor Produk Ekonomi Kreatif Terbesar di RI, Jatim Raih Nusantaraya Award di ICCF 2025“











