wawasandigital.id – Akademi Seni Banyuasin (ASB) kini menjadi sorotan setelah berhasil mengintegrasikan teknologi Augmented Reality (AR) ke dalam pembelajaran seni patung.
Inovasi ini membuka cara baru bagi mahasiswa untuk mempelajari bentuk, proporsi, dan tekstur patung tanpa harus langsung memegang material fisik seperti tanah liat atau batu.
“Kami ingin membawa pengalaman belajar patung ke level baru, di mana mahasiswa bisa melihat dan berinteraksi langsung dengan model tiga dimensi,” ujar Dr. Nur Aini Rahma, Kepala Program Studi Seni Rupa ASB.
Teknologi ini memungkinkan mahasiswa menampilkan patung virtual dalam ukuran sebenarnya melalui layar gawai atau kacamata AR. Mereka dapat mengubah sudut pandang, menambahkan detail permukaan, hingga mempelajari struktur anatomi dari berbagai sisi — layaknya berada di studio nyata.
Baca Juga: “Festival Seni Poso Hadirkan Pertunjukan Teater Gerak 2025“
Akademi Seni Banyuasin Dari Studio ke Dunia Virtual
Program ini bermula dari inisiatif dosen muda ASB yang ingin menjembatani kesenjangan antara praktik seni tradisional dan kemajuan teknologi digital.
Mereka bekerja sama dengan startup teknologi lokal Artverse Indonesia, yang mengembangkan aplikasi AR khusus untuk pendidikan seni.
Aplikasi ini dilengkapi dengan fitur interaktif seperti:
- 🧍 Model Anatomi 3D: Mahasiswa bisa menganalisis struktur tubuh manusia dengan skala proporsional.
- 🪨 Simulasi Material: Pengguna dapat memilih jenis tekstur, seperti batu pualam atau tanah liat.
- ✏️ Gesture Sculpting: Teknologi deteksi gerak yang memungkinkan pengguna “memahat” langsung melalui gerakan tangan.
- 🎨 Layer Warna: Fitur pewarnaan digital yang meniru efek cat minyak dan pastel.
“Kami memadukan sentuhan tangan manusia dengan bantuan visual digital. Seni tidak ditinggalkan, hanya diperluas,” jelas Rizky Mahendra, pengembang utama Artverse.
Sebelum sistem ini diterapkan, mahasiswa biasanya memerlukan ruang besar, waktu lama, dan material mahal. Kini, semua proses bisa dilakukan lebih efisien tanpa menghilangkan esensi pembelajaran seni rupa.
Akademi Seni Banyuasin Meningkatkan Kreativitas dan Efisiensi
Sejak uji coba pada awal semester ini, hasilnya menunjukkan perubahan signifikan pada cara mahasiswa memahami bentuk dan ruang.
Berdasarkan survei internal kampus, 83% mahasiswa merasa lebih cepat menguasai dasar anatomi patung, sementara 70% menyebut metode AR membantu eksplorasi ide lebih bebas.
“Dulu saya sulit memahami proporsi kepala dan tangan manusia. Sekarang bisa saya lihat langsung dari semua sisi,” kata Alya, mahasiswa tingkat dua.
Selain aspek teknis, teknologi AR juga memberi ruang bagi mahasiswa untuk berkolaborasi lintas jurusan.
Mahasiswa desain grafis, multimedia, dan patung bisa bekerja bersama membuat karya virtual interaktif yang dipamerkan secara digital di galeri kampus.
Kelas Hybrid yang Hidup dan Adaptif
Akademi Seni Banyuasin menerapkan pendekatan hybrid learning, menggabungkan praktik studio fisik dengan simulasi digital.
Dalam satu sesi, dosen memperlihatkan patung klasik seperti David karya Michelangelo dalam bentuk AR. Mahasiswa kemudian membandingkannya dengan replika fisik di ruang praktik.
Metode ini dianggap efektif meningkatkan pemahaman visual dan tekstural.
Dosen bisa menilai hasil kerja mahasiswa secara real-time melalui dashboard digital, sementara mahasiswa dapat menyimpan hasil pahatan virtual mereka ke dalam portfolio cloud.
Beberapa keunggulan pendekatan ini antara lain:
- ⏱️ Efisiensi waktu belajar hingga 40%.
- 🌍 Akses pembelajaran jarak jauh bagi mahasiswa di luar kampus.
- ♻️ Pengurangan limbah material studio hingga 60%.
“Kita tak lagi terbatas ruang dan bahan. Mahasiswa bisa berkreasi kapan pun, di mana pun,” tambah Nur Aini.
Tantangan dan Adaptasi Pengajar Seni
Meski inovatif, penerapan teknologi AR dalam seni patung bukan tanpa tantangan.
Sebagian dosen senior masih menilai pengalaman “memegang bahan” tidak bisa digantikan sepenuhnya.
Untuk menjembatani hal itu, kampus mengadakan pelatihan penggunaan AR bagi tenaga pengajar agar teknologi digunakan sebagai pelengkap, bukan pengganti.
“Kami ajarkan cara menyeimbangkan teknologi dengan intuisi seni. Sentuhan manusia tetap inti dari patung,” jelas Dr. Nur Aini.
ASB juga membentuk laboratorium seni digital yang menampung eksperimen lintas bidang — mulai dari patung interaktif hingga seni instalasi berbasis proyeksi.
Mahasiswa diajak menciptakan karya yang menggabungkan tradisi lokal dengan pendekatan teknologi mutakhir.
Potensi Pameran Digital dan Kolaborasi Nasional
Setelah sukses di lingkungan internal, Akademi Seni Banyuasin berencana menggelar pameran patung digital pertama di Sumatera Selatan, di mana pengunjung dapat berinteraksi dengan karya melalui gawai AR.
Karya mahasiswa akan menampilkan tema “Ruang, Tubuh, dan Imajinasi Digital.”
“Pengunjung bisa berjalan di sekitar patung virtual dan bahkan memperbesar detailnya. Ini pengalaman baru yang interaktif,” kata Rizky Mahendra.
ASB juga tengah menjalin kolaborasi dengan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan Universitas Multimedia Nusantara (UMN) untuk membentuk konsorsium seni digital nasional.
Tujuannya adalah menciptakan kurikulum seni berbasis teknologi AR dan VR yang dapat diterapkan di berbagai lembaga pendidikan seni di Indonesia.
Refleksi: Seni Tak Hilang, Hanya Berevolusi
Perubahan yang dilakukan Akademi Seni Banyuasin menegaskan bahwa seni dapat beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan jiwanya.
Teknologi bukan ancaman, tetapi jembatan yang memperluas cara manusia mengekspresikan keindahan.
Bagi mahasiswa, AR membuka kemungkinan baru untuk berimajinasi dan bereksperimen tanpa batas fisik.
Sementara bagi dunia seni Indonesia, ini menjadi contoh nyata bagaimana tradisi dan teknologi bisa bersanding dalam harmoni kreatif.
“Seni patung adalah refleksi tubuh dan perasaan. Dengan AR, kami hanya menambah satu alat baru untuk merasakannya,” tutup Nur Aini.
Baca Juga: “Kementerian Kebudayaan Raih CNN Award untuk Program MTN Seni Budaya“











