wawasandigital.id — Seorang seniman Lumajang bernama Rafli Hidayat berhasil mencuri perhatian komunitas kriya nasional lewat karya perhiasan unik yang dibuat dari kayu menggunakan teknik pembakaran tradisional. Inovasi ini memadukan unsur seni, lingkungan, dan filosofi lokal, menjadikannya karya yang bernilai estetis sekaligus ramah lingkungan.
Karya yang ia namakan “Wood Ember Jewelry” ini dipamerkan dalam acara Artisanal Week Lumajang 2025 di Galeri Tugu, dan mendapat apresiasi karena berhasil mengubah limbah kayu menjadi aksesori modern bernuansa etnik.
“Saya ingin menunjukkan bahwa kayu bukan hanya bahan furnitur, tapi juga bisa menjadi simbol keindahan yang hidup. Teknik pembakaran ini memberi karakter alami pada setiap potongan,” ujar Rafli, seniman Lumajang yang juga pengajar di Sanggar Rupa Nusantara.
Baca Juga: “Akademi Seni Banyuasin Gunakan Teknologi AR Belajar Patung“
Seniman Lumajang Kenalkan Teknik Pembakaran yang Menjadi Ciri Khas
Metode yang digunakan Rafli disebut sebagai “char burn technique”, teknik membakar permukaan kayu secara terkontrol untuk menghasilkan warna gelap alami tanpa pewarna kimia. Setelah dibakar, permukaan kayu disikat halus, dilapisi minyak alami, dan dipadukan dengan logam tembaga atau perak daur ulang.
Tahapan Pembuatan Perhiasan Kayu
- Pemilihan bahan: menggunakan kayu jati muda, mahoni, atau sonokeling limbah kerajinan.
- Proses pembakaran: dilakukan dengan suhu rendah agar tekstur alami tetap terjaga.
- Finishing alami: permukaan disegel dengan minyak biji rami dan lilin lebah.
- Perakitan logam: bagian sambungan dibuat dari tembaga bekas alat musik tua.
Menurut seniman Lumajang ini, teknik tersebut terinspirasi dari metode Jepang kuno yakisugi yang digunakan untuk melindungi kayu dari cuaca ekstrem, namun ia modifikasi agar lebih cocok untuk iklim tropis dan material lokal.
Perbandingan Teknik Perhiasan Kayu
| Jenis Teknik | Asal | Karakter Warna | Bahan Pendukung | Daya Tahan |
|---|---|---|---|---|
| Polish Natural | Eropa | Cokelat terang | Kayu keras | Sedang |
| Resin Casting | Modern | Transparan | Resin + serpihan kayu | Tinggi |
| Char Burn (Rafli) | Indonesia | Hitam alami bergradasi | Kayu lokal + logam daur ulang | Tinggi |
Perpaduan warna hitam arang dengan kilauan tembaga menjadikan karya seniman Lumajang ini tampak elegan namun tetap membawa nuansa alam pedesaan.
Filosofi Seniman Lumajang dan Nilai Lingkungan di Balik Karya
Rafli menegaskan bahwa setiap karya memiliki pesan tentang siklus kehidupan alam. Ia memanfaatkan limbah kayu dari pengrajin meubel di Lumajang, lalu mengolahnya kembali menjadi benda bernilai tinggi.
Pesan yang Ingin Disampaikan
- Kebangkitan dari arang: kayu yang terbakar melambangkan kekuatan setelah melalui tekanan.
- Seni yang hidup: setiap guratan arang menjadi jejak waktu dan panas yang dihadapi alam.
- Keberlanjutan: bahan daur ulang menjadi perhiasan yang tak hanya indah tapi juga etis.
- Kemandirian lokal: pembuktian bahwa karya seni kelas dunia bisa lahir dari desa.
“Setiap kalung dan cincin yang saya buat punya cerita. Arangnya bukan noda, tapi tanda perjalanan,” katanya dengan senyum ringan.
Respons Pasar dan Dukungan Komunitas Seniman Lumajang
Karya seniman Lumajang ini kini mulai dilirik oleh pasar nasional dan internasional. Melalui platform CraftHub Indonesia, Rafli menerima pesanan dari pembeli di Yogyakarta, Bali, bahkan Jepang. Harga satu perhiasan berkisar antara Rp350 ribu hingga Rp1,5 juta, tergantung tingkat detail dan logam yang digunakan.
Dukungan Lokal untuk Pengembangan
- Dinas Koperasi dan UMKM Lumajang membantu promosi lewat pameran daerah.
- Komunitas Kriya Nusantara memberi pelatihan branding dan e-commerce.
- Bank daerah setempat mendukung permodalan lewat program kredit kreatif.
- Kampanye #BeliKaryaLokal membantu meningkatkan visibilitas produk di media sosial.
Menurut data dari Indonesian Craft Council 2025, permintaan produk kriya alami meningkat 34% sejak awal tahun, terutama dari kalangan muda yang mencari aksesori ramah lingkungan.
Perhiasan Kayu sebagai Identitas Baru Lumajang
Melalui karya inovatif ini, seniman Lumajang berhasil mengangkat citra daerahnya sebagai pusat seni berbasis alam. Karya Rafli kini tidak hanya dijual di galeri, tetapi juga dipajang di beberapa hotel dan butik seni di Banyuwangi dan Malang.
Misi Seni Berkelanjutan
- Mengedukasi anak muda tentang pemanfaatan bahan alam.
- Membentuk komunitas EcoArt Lumajang yang fokus pada seni hijau.
- Membangun rumah produksi perhiasan kayu ramah lingkungan.
- Mengadakan lokakarya bagi pelajar tentang teknik pembakaran kayu artistik.
“Lumajang punya potensi besar, tapi perlu diberi ruang untuk bereksperimen. Saya ingin anak muda di sini berani menciptakan gaya seni mereka sendiri,” ujar Rafli menutup wawancara.
Potensi Kriya Lokal di Masa Depan
Keberhasilan seniman Lumajang ini memperlihatkan bagaimana kreativitas bisa menjadi solusi untuk masalah limbah dan identitas lokal. Dengan pendekatan yang autentik dan berkelanjutan, karya seperti Wood Ember Jewelry membuka jalan baru bagi perkembangan ekonomi kreatif di wilayah tapal kuda Jawa Timur.
Program pengembangan kriya lokal yang tengah digagas oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif diharapkan dapat membantu memperluas jangkauan pasar serta menjadikan Lumajang sebagai destinasi seni baru berbasis material alami.
“Setiap karya seni yang berakar dari alam akan selalu punya tempat di hati masyarakat,” ucap Rafli dengan penuh keyakinan.
Baca Juga: “8 Inspirasi Desain Rumah dengan View Langsung ke Pegunungan, Nyaman dan Menenangkan“











