wawasandigital.id — Seorang pelukis muda asal Kendari, Sulawesi Tenggara, mencuri perhatian publik seni lokal setelah memperkenalkan karya lukisan yang seluruhnya dibuat menggunakan lumpur sungai sebagai bahan utama.
Inovasi ini menjadi bagian dari gerakan “Art from Nature”, sebuah inisiatif seni yang menekankan pemanfaatan bahan alami tanpa bahan kimia sintetis.
Pelukis tersebut, Rifky Amir (28), memanfaatkan lumpur dari Sungai Wanggu yang ia keringkan dan olah menjadi pigmen bertekstur lembut dengan warna-warna tanah khas bumi Sulawesi.
“Bagi saya, lumpur bukan kotoran, melainkan jejak alam yang menyimpan kisah. Saya ingin menghadirkan kedekatan manusia dengan tanahnya sendiri lewat lukisan,” ujar Rifky saat ditemui di studionya di Kendari Art District.
Karya Rifky kini dipamerkan di beberapa galeri lokal dan menarik perhatian kurator karena menyatukan keindahan visual dengan pesan lingkungan.
Baca Juga: “Rafi Pamerkan Lukisan Bergerak dengan Sensor Gerak Tubuh“
Pelukis Kendari Gunakan Proses Kreatif: Dari Lumpur Menjadi Warna
Untuk menghasilkan warna yang kuat dan tahan lama, Rifky mengembangkan metode pengolahan sederhana namun cermat.
Lumpur sungai yang ia kumpulkan disaring, dijemur, lalu dicampur dengan minyak alami dari biji kemiri sebagai pengikat warna.
Tahapan Pembuatan Cat dari Lumpur
- Pengambilan lumpur: dilakukan pada area sungai yang masih bersih dan tidak tercemar limbah.
- Proses pengeringan: lumpur dijemur selama tiga hari hingga mengeras.
- Penghalusan dan penyaringan: dilakukan agar tekstur halus seperti bubuk tanah liat.
- Pencampuran minyak alami: menciptakan daya rekat kuat sekaligus efek mengilap alami.
- Uji warna di kanvas: untuk melihat intensitas dan ketahanan pigmen alami.
Hasil akhirnya berupa palet warna alami — cokelat tanah, abu kelabu, dan oker kemerahan — yang memberikan kesan hangat dan organik pada setiap lukisan.
“Setiap warna punya cerita. Lumpur dari hulu berwarna lebih gelap karena kandungan mineralnya, sementara dari muara lebih lembut dan keemasan,” jelas Rifky.
Filosofi Alam Pelukis Kendari dan Kearifan Lokal
Selain sebagai inovasi teknik, karya Rifky juga membawa pesan filosofis tentang keterhubungan manusia dan alam.
Ia mengaku terinspirasi oleh kebiasaan masyarakat lokal yang masih bergantung pada sungai untuk kehidupan sehari-hari — dari mandi hingga bercocok tanam.
Nilai Filosofis Karya Lumpur Sungai
- Kesederhanaan: menggambarkan kehidupan masyarakat Kendari yang dekat dengan alam.
- Keberlanjutan: menolak limbah kimia dalam proses berkarya seni.
- Kearifan lokal: menjaga warisan alam sungai yang menjadi identitas budaya Sulawesi Tenggara.
- Refleksi spiritual: mengingatkan manusia akan asal dan keterikatannya dengan tanah.
Beberapa lukisan Rifky menggambarkan lanskap sungai yang tenang, aktivitas warga pesisir, dan simbol-simbol alam seperti akar, batu, serta pola arus air yang mengalir lembut.
Apresiasi dari Komunitas Seni dan Akademisi
Karya Rifky mendapat apresiasi luas dari komunitas seni di Kendari, terutama karena keberaniannya bereksperimen dengan media yang jarang digunakan di dunia modern.
Pameran bertajuk “Tanah dan Napas” yang digelar di Galeri Tebu Kendari menampilkan 25 karya terbarunya, semuanya dibuat dengan lumpur alami.
Tanggapan Komunitas Seni
| Pihak | Komentar | Dampak |
|---|---|---|
| Komunitas Lukis Kendari | Menilai karya Rifky autentik dan segar | Meningkatkan minat pelukis muda untuk eksplorasi bahan lokal |
| Akademisi Seni UHO | Menyebutnya sebagai bentuk seni ekologis | Mendorong penelitian seni berkelanjutan |
| Kurator Nasional | Mengapresiasi orisinalitas teknik | Membuka peluang pameran di tingkat nasional |
Menurut kurator lokal, pendekatan Rifky merepresentasikan tren baru seni rupa Indonesia yang bergerak ke arah ekologi dan keberlanjutan, sejalan dengan isu global tentang pelestarian lingkungan.
Tantangan: Ketahanan Warna dan Skala Produksi
Meski inovatif, Rifky mengakui masih menghadapi tantangan dalam menjaga konsistensi warna lumpur, terutama saat pameran di luar ruangan.
Kelembapan udara dan intensitas cahaya dapat memengaruhi hasil akhir karya.
Upaya Mengatasi Kendala Teknis
- Menggunakan minyak kemiri dan lilin alami sebagai pelapis agar tahan lembab.
- Melapisi karya dengan resin transparan ramah lingkungan untuk menjaga tekstur.
- Menyimpan karya di ruang dengan suhu stabil dan pencahayaan alami.
- Melakukan eksperimen pigmen mineral untuk memperluas variasi warna alami.
Rifky berencana bekerja sama dengan tim kimia dari Universitas Halu Oleo Kendari untuk mengembangkan formula cat alami yang lebih stabil namun tetap ramah lingkungan.
Dampak Sosial dan Lingkungan
Lebih dari sekadar karya seni, praktik Rifky kini menjadi inspirasi bagi komunitas lokal.
Ia mengadakan lokakarya rutin berjudul “Melukis dengan Alam” untuk mengajarkan anak-anak dan pelajar membuat karya seni menggunakan bahan dari alam sekitar.
Manfaat Program Lokakarya
- Edukasi lingkungan: mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan sungai.
- Kreativitas lokal: mendorong anak muda melihat potensi seni dari sumber daya sekitar.
- Pemberdayaan ekonomi kecil: memanfaatkan lumpur sebagai bahan bernilai seni.
- Pariwisata budaya: menarik wisatawan yang tertarik pada pengalaman seni ekologis.
Pemerintah Kota Kendari berencana mendukung kegiatan Rifky dengan menyediakan ruang pamer permanen untuk seniman lokal yang mengusung konsep keberlanjutan.
Kesimpulan: Seni yang Menyatu dengan Alam
Karya Rifky Amir, pelukis muda Kendari yang menggunakan lumpur sungai sebagai media lukis, membuktikan bahwa seni dapat tumbuh dari kesederhanaan alam.
Pendekatannya tidak hanya memperkenalkan inovasi visual, tetapi juga mengajak masyarakat untuk memandang kembali hubungan mereka dengan alam dan lingkungan hidup.
Dalam setiap sapuan lumpur di kanvasnya, tersimpan pesan mendalam: bahwa keindahan sejati lahir dari tanah tempat kita berpijak.
“Tanah dan sungai bukan sekadar sumber kehidupan, tapi juga ruang untuk berekspresi dan berterima kasih pada alam,” tutup Rifky dengan senyum sederhana.
Baca Juga: “Tanjung Priok Hub” padukan warisan budaya dengan sejarah perkotaan“











